#kompas.id
Mengatasi Omicron dan Varian Masa Depan
- Opini
- /
- 14/02/2022
Jangan menganggap enteng Omicron. Dampak varian ini memang tak sedrastis varian Delta karena mayoritas bergejala ringan. Penularan Omicron sangat ”ngegas” dan negara kita mulai terganggu lejitan kasus Covid-19. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri memasukkan Omicron (B.1.1.529) sebagai varian yang harus diwaspadai (variant of concern/VoC) sejak 26 November 2021. Menginvasi ke seluruh dunia seperti ”perang kilat” (blitzkrieg), angka kasus Omicron sangat cepat menanjak. Bahkan, kini penambahan hariannya 4-5 kali lipat (sekitar 3 juta kasus) dari saat puncak varian Delta (sekitar 750.000). Tingkat kematian pun mengikuti. Kalau puncak Delta tingkat kematiannya 11.000-an per hari, kini Omicron sudah menewaskan sekitar 12.000-an per hari. Data epidemiologi terbaru menunjukkan peningkatan infeksi pesat di Eropa, mayoritas akibat Omicron. Pada September 2021, lebih dari sejuta kasus penularan baru per minggu, tetapi pada minggu pertama Januari 2022 menjadi lebih dari tujuh juta kasus per minggu, meningkat tujuh kali lipat. Kini seluruh Eropa menderita penularan yang cepat, bahkan Perancis, Inggris, dan Rusia melampaui 100.000 kasus per hari.
Learning from New Variant Breaking into the Country's Gates
- Opini
- /
- 24/01/2022
If the government is serious about tightening the mobility of citizens, the entry gate for foreign nationals should also be strictly guarded. Because, through the country's gate, a new variant of the virus from abroad enters. The "half-hearted lockdown" policy must face the harsh reality. When the implementation of the emergency community activity restrictions (PPKM) was almost over, the Covid-19 rampage was even more intense. The optimism of the Coordinating Minister for Maritime Affairs and Investment Luhut Pandjaitan, who was appointed by President Jokowi as the commander to lead this special mission to deal with the second wave of Covid-19, was wrong. Instead of gently sloping towards the target of below 10,000 cases of transmission per day, it skyrocketed beyond 50,000. On July 15, 2021, the daily number of positive cases was 56,757 and 982 cases died. In fact, when the emergency PPKM began to be implemented on July 3, 2021, there were "new" 27,913 cases and 493 deaths. More than double!
Mengurai Jerat Impor Bahan Baku Obat
- Opini
- /
- 11/01/2022
Indonesia dikenal sebagai negara nomor dua di dunia dengan keragaman biodiversitas, setelah Brasil. Sayang industri fitofarmaka kita masih ketinggalan sejak dari R&D, infrastruktur industrinya, dan regulasi pendukungnya. Presiden Joko Widodo merasa terusik dengan besarnya ketergantungan pada impor obat, bahan baku obat dan alat kesehatan. Presiden ingin bukan sekadar mengurangi, tetapi tujuan nantinya adalah menghentikan impor. “Alkes, obat-obatan dan bahan baku obat, kita harus berhenti untuk mengimpor barang barang itu lagi. Kita produksi sendiri di negara kita,” kata Presiden saat peletakan batu pertama RS Internasional di Denpasar, Bali (27/12/2021). Tekad bagus ini tentu harus kita dukung, tetapi di samping alat kesehatan (alkes), apa bisa menghentikan impor bahan baku obat? Siapkah industri hulu farmasi kita?
Blocking the Third Wave
- Opini
- /
- 08/12/2021
This is the most recent variant to emerge from the series of coronavirus mutations that are aggressively destroying Europe today. The microscopic coronavirus is continuing to turn the world upside down. At the beginning of World War II, Germany surprisingly launched a blitzkrieg, or lightning attack, in 1939 and succeeded in crushing Europe, and then crossed into Africa in 1941. Because of his success in claiming power all the way to Africa, Erwin Rommel, the general of the 7th Panzer division, was nicknamed the “Wolf of the Desert”. Eighty years later in November 2021, it was the “African troops” that launched a blitzkrieg against Germany. The difference is, these troops are invisible armed forces formed of the Covid-19 virus from the Omicron "division". This is the most recent variant to emerge from the series of coronavirus mutations that are aggressively destroying Europe today.
Mencegat Gelombang Ketiga
- Opini
- /
- 07/12/2021
Jika negara-negara maju di kawasaan Eropa kewalahan menahan serbuan varian Omicron, sudah sepantasnya jika negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, lebih serius mengantisipasinya. Jasad superkecil korona terus membolak-balik keadaan dunia. Awal Perang Dunia II, 1939, Jerman secara mengejutkan melancarkan blitzkrieg atau serangan kilat dan berhasil menggilas Eropa lalu menyeberang ke Afrika pada 1941. Karena kesuksesannya menancapkan kekuasaan sampai ke Afrika ini, Erwin Rommel, sang jenderal Divisi Panzer ke-7 ini, dijuluki “Serigala Padang Pasir”. Delapan puluh tahun kemudian, November 2021, gantian “pasukan Afrika” yang melancarkan blitzkrieg menyerang Jerman. Bedanya, pasukan ini berupa makhluk tak kasat mata angkatan bersenjata Covid-19, dari “divisi” Omicron.