#pandemi
Tetap saja, mari Menghindari Sakit Ginjal Sekalipun di era pandemi
- Blog
- /
- 12/06/2021
Pernahkah terbersit dalam pikiran kita semua tentang seberapa berbahaya sakit ginjal, apalagi di era pandemi yang belum ada titik terang kapan berakhirnya? Juga, bagaimanakah hal tersebut dikaitkan dengan kemampuan suatu negara dalam melindungi kesehatan warga negaranya? Sesungguhnya penyakit gagal ginjal kronis (GGK) menjadi momok tidak hanya bagi pasien dan keluarga, namun lebih dari itu, intinya bagi kita semua, termasuk petugas medis, pemerintah. Bisa bayangkan kalau melihat hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan, bahwa persentase penyakit ginjal kronik di Indonesia sebesar 3,8 persen dengan kenaikan sebesar 1,8 persen dari 2013. Data BPJS Kesehatan pada tahun 2017 mencatat total biaya Rp3,1 triliun dikerahkan untuk membiayai penyakit gagal ginjal kronis. Pembiayaan tersebut adalah peringkat keempat pengeluaran terbesar lembaga asuransi kesehatan negara tersebut.
'Protokol Meja Makan' Puasa era Pandemi
- Opini
- /
- 22/04/2021
SUNATULLAH atau secara alamiah, tubuh manusia tidak bisa menjalankan fungsinya jika tidak ada asupan makanan. Tubuh manusia membutuhkan asupan nutrisi berupa makanan dan air yang mengandung mineral secara proporsional, agar tetap hidup dengan baik melalui dukungan penuh dari mesin homeostasis (biologi) tubuhnya. Istilah yang tepat adalah makan untuk hidup, dan jangan dibalik, agar mesin homeostasis tubuh tidak gampang menuju homeostenosis (menua). Ada kalanya tubuh sengaja dikosongkan dari asupan nutrisi dalam jangka waktu tertentu, untuk tujuan tertentu. Salah satu bentuk pengosongan nutrisi itu adalah yang disebut puasa. Jika sedang tidak puasa, tubuh membutuhkan sumber bahan bakar untuk menjalankan mesin kehidupan, agar dapat bergerak secara fisik, mental dan emosional. Rasa lapar adalah sinyal bahwa tubuh minta asupan nutrisi, minta makan.
Ketua Badan Kesehatan MUI Jatim : Vaksinasi Cara Terampuh Atasi Pandemi
- Berita
- /
- 04/03/2021
Surabaya, MUIJatim, Ketua Badan Kesehatan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Tim, Prof. Djoko Santoso, dr, Ph.D, Sp.PD, KGH, FINASIM, menegaskan bahwa vaksinasi merupakan cara terampuh untuk mempercepat kekebalan kelompok (herd immunity), atau sebuah kondisi dimana sebagian besar masyarakat sudah memiliki antibodi untuk melawan covid-19. Hal itu disampaikan Prof. Djoko Santoso saat menjadi pembicara dalam diskusi virtual atau webinar bertema “Vaksinasi: Antara Kebutuhan Medis dan Kewajiban Agama”, yang digelar oleh Dewan Pimpinan MUI Provinsi Jawa Timur Pada Senin (01/03). Guru Besar Universitas Airlangga ini meminta semua pihak mendukung program vaksinasi Pemerintah, karena vaksinasi dapat meningkatkan kekebalan kelompok dengan resiko yang sangat kecil jika dibandingkan dengan kekebalan kelompok alami atau melalui infeksi langsung.
Bagaimana Mengefektifkan PPKM?
- Berita
- /
- 01/02/2021
Semarang, Idola 92.6 FM – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM yang dimulai 11 Januari lalu diharapkan mampu menekan penularan Covid-19 di berbagai daerah. Namun, ternyata, hingga jelang berakhirnya masa PPKM jilid I, angka kasus Covid-19 masih belum bisa dikendalikan. Tim Satgas Penanganan Covid-19 menilai, PPKM belum berhasil optimal sehingga diperpanjang hingga 8 Februari mendatang. Hasil evaluasi PPKM periode pertama yang diterapkan di 73 kabupatan/ kota menunjukkan: kasus aktif masih di bawah rata-rata nasional yakni 14 persen, tingkat kematian masih di atas rata-rata nasional, 3 persen, tingkat kesembuhan di bawah rata-rata nasional, 82 persen, dan tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit (ICU dan isolasi) di atas 70 persen.
Saat Korona Belokkan Imunitas Jadi Senjata Makan Tuan
- Opini
- /
- 09/04/2020
Untuk menghindari kefatalan, selain mengandalkan vaksin yang sampai sekarang masih dalam proses percepatan riset, sangat penting upaya untuk menjaga dan memperkuat sistem kekebalan tubuh. Mengapa virus korona jenis baru (novel coronavirus) ini bisa sangat mematikan? Bagaimana virus bernama resmi Covid-19 ini menyerang tubuh dan mengapa bisa menyebabkan korban meninggal dalam waktu sangat cepat, 4-7 hari? Padahal, pada pasien HIV/AIDS umumnya perlu waktu bertahun-tahun menuju kefatalan. Kalau HIV/AIDS ibarat perang gerilya, Covid-19 menghancurkan dalam perang kilat (blitzkrieg). Gambaran kerusakan itu bisa dilihat dari sebuah video yang disebar di medsos. Dokter Keith Mortman, Kepala Bedah Toraks RS Universitas George, Washington, menunjukkan permodelan 3D untuk memperlihatkan betapa cepatnya Covid-19 menyerang paru-paru.