#gagal ginjal akut


Penjelasan Gagal Ginjal Akut Menurut Pakar Nefrologi UNAIR

UNAIR NEWS – Maraknya kasus gagal ginjal akut misterius pada awal bulan Oktober lalu masih menjadi pembicaraan hangat. Terdapat kurang lebih 131 anak di 14 provinsi di Indonesia mengalami gagal ginjal akut yang mana saat itu belum diketahui penyebabnya. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kemudian memberikan pernyataan bahwa penyebab gagal ginjal akut pada anak karena konsumsi obat sirup yang mengandung bahan kimia melebihi ambang batas. Bahan tersebut adalah Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG). Menurut Prof Djoko Santoso dr PhD SpPD KGH FINASIM, guru besar ilmu penyakit dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (UNAIR) dan konsultan ginjal-hipertensi mendefinisikan gagal ginjal akut sebagai kondisi gangguan fungsi ginjal yang muncul dengan serangan mendadak dan cepat ditandai oleh peningkatan serum kreatinin atau menurunnya produksi urin.

Magnesium dan Gagal Ginjal Akut

Gagal ginjal akut adalah kondisi fungsi ginjal berhenti secara tiba-tiba. Gagal ginjal akut sering terjadi meskipun frekuensinya lebih kecil dibandingkan dengan gagal ginjal kronis. Namun dari segi waktu fatalitas, gagal ginjal akut terjadi dalam waktu lebih singkat dibandingkan dengan gagal ginjal kronis. Hal ini karena memang sifat dari gagal ginjal akut yang mendadak. Gagal ginjal akut adalah masalah pada ginjal yang cukup sering dijumpai. Pada sejumlah orang yang masuk ke rumah sakit, diperkirakan sekitar 5,7% mengalami gagal ginjal akut, dimana 15% kondisi diantaranya akan berkembang menjadi lebih buruk sehingga harus menerima perawatan di ICU. Apa yang menjadi penyebab sampai pencegahan gagal ginjal akut? Apa kaitannya dengan magnesium? Baca terus ulasan berikut.

Kenali Gagal Ginjal Akut pada Covid-19

Hingga saat ini Covid-19 masih menjadi isu hangat dalam masyarakat. Saat kasus angka positif Covid-19 sudah mulai menurun di Indonesia, negara lain justru mengalami peningkatan kasus gelombang ketiga. Padahal cakupan vaksinasi negara lain lebih tinggi dibandingkan dengan Indonesia. Misalnya saja di Singapura mulai mengalami peningkatan kasus positif Covid-19, padahal cakupan vaksinasinya mencapai 86%. Hal ini berarti sangat mungkin bagi seseorang terinfeksi Covid-19 meskipun telah mendapatkan vaksinasi. Kasus berat Covid-19 dapat dialami oleh pasien dengan komorbid (peyakit penyerta) atau tidak komorbid. Penyakit komorbid yang sering menyertai adalah penyakit kardiovaskular (32%), diabetes (30%), penyakit paru kronis (18%), dan penyakit ginjal (7,6%).