Peran Asam Keto dan Asam Amino Esensial pada Penyakit Ginjal Kronis


Setelah mengetahui bagaimana menjaga asupan protein pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) di artikel sebelumnya, berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai asupan tambahan terkait protein dalam tubuh. Dengan memahami manfaat kandungan nutrisi pada suplementasi protein, maka pasien dan keluarga akan semakin disiplin dalam menjaga konsumsinya sehari-hari.

Protein sungguh sangat penting untuk kelangsungan hidup dari sel suatu tubuh kita, tidak terkecuali pada mereka dengan PGK. Untuk PGK, ada kekhususan perhatian yang tidak boleh dilupakan, mengingat konsumsi  yang berlebihan akan membebani ginjal dan menambah kerusakannya. Maka dari itu, konsumsi protein perharinya pada mereka tersebut, harus tetap dikontrol agar tetap rendah. Protein di tubuh akan menjalani proses metabolisme dan dipecah menjadi asam amino yang diperlukan tubuh untuk berbagai fungsi biologis.

Menurut sumbernya asam amino tersebut dibagi menjadi asam amino esensial dan non-esensial. Perbedaan tersebut didasari atas asam amino esensial --harus diperoleh dari luar tubuh (makanan), sedangkan non-esensial dapat diproduksi sendiri oleh tubuh kita. Contoh asam amino esensial adalah histidin, isoleusin, leusin, lisin, metionin, fenilalanin, treonin, triptofan, dan valin. Asam amino esensial tersebut memiliki fungsi yang beragam sebagai contoh isoleusin, lisin, leusin, valin memainkan peran penting dalam membentuk jaringan tubuh, hormon, enzim, dan antibodi. Asam amino treonin dan histidin memiliki fungsi penting dalam menjaga kesehatan jantung, hati, sistem kekebalan tubuh dan sistem saraf pusat. Selain itu, fenilalanin dan triptofan menghasilkan neurotransmiter di otak seperti dopamin dan serotonin. Kesembilan asam amino tersebut didapatkan banyak pada telur, daging sapi, daging ayam, susu, dan sumber protein lainnya. Sementara asam amino lain seperti alanine, arginin, asparagine, asam aspartat, dan sistein dapat dibentuk oleh tubuh kita dengan sendirinya. Dengan penerapan diet rendah protein, terutama diet sangat rendah protein, disarankan untuk menambahkan suplementasi asam amino esensial agar fungsi-fungsi tubuh tetap dapat berjalan sebagaimana mestinya.

Penambahan asam amino yang berlebihan beresiko untuk menyebabkan retensi nitrogen dalam tubuh yang bersifat toksik atau meracuni tubuh. Racun ini  disebut sebagai uremic toxin yang dapat menganggu otak dan menyebabkan kematian. Mengingat risiko ini maka praktisi perlu mempertimbangkan penambahan α-ketoacid untuk menghindari malnutrisi. Suplemen α-ketoacid lebih efektif daripada asam amino esensial dalam memperlambat perjalanan gangguan ginjal. Asam keto tidak mengandung nitrogen dan tidak menghasilkan nitrogen sehingga tidak membebani ginjal. Asam keto digunakan sebagai pengganti asam amino yang tidak mengandung nitrogen pada berbagai kelainan yang menyangkut retensi nitrogen atau intoleransi protein. Selain itu terdapat manfaat lain diet rendah protein dengan terapi α-ketoacid yaitu memperbaiki azotemia dan asidosis metabolik, menyediakan asam amino esensial dan memperbaiki metabolisme protein, mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki metabolisme karbohidrat, meningkatkan aktivitas lipase dan memperbaiki metabolisme lemak, menurunkan kadar fosfor serta meningkatkan kadar kalsium, mengurangi gejala hiperparatiroid sekunder, dan menurunkan ekskresi protein urine dan menghambat perjalanan PGK.

Ketika diet rendah protein diberikan, kepatuhan penderita dan status nutrisi perlu diperhatikan seksama untuk menghindari malnutrisi. Pengawasan harus dimulai saat GFR di bawah 60 ml/menit, karena penderita PGK cenderung mengalami malnutrisi pada stadium ini. Bila diet rendah protein diberikan, pengawasan perlu dilakukan lebih sering, yaitu sebulan sekali pada awal terapi kemudian setiap 2 atau 3 bulan. Kombinasi berbagai pemeriksaan untuk mendiagnosis malnutrisi dapat dilakukan seperti  pemeriksaan body mass index (BMI), ketebalan kulit trisep, diameter lengan atas, pemeriksaan darah seperti albumin, transferin, pre-albumin, kolesterol.

Mengingat pentingnya peran protein ini pada tubuh manusia termasuk mereka dengan PGK, jumlah konsumsi protein perlu dicermati secara benar. Semoga kilasan sederhana ini bisa mudah dimengerti, dipahami serta dipatuhi demi menjaga kesehatan, tidak saja untuk organ ginjal saja namun untuk seluruh komponen tubuh kita. 

Cintailah ginjal kita yang menakjubkan ini. []

 

Djoko Santoso
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

Sumber gambar: https://www.gurupendidikan.co.id/metabolisme-protein/