Menilik Kondisi Obesitas di Arab Saudi


Setelah mempelajari bahaya obesitas yang khususnya membawa dampak pada kerusakan ginjal pada dua artikel sebelumnya, sekarang kita perlu melihat kondisi obesitas di dunia secara global. Secara sepintas, hal ini tidak nampak sebagai permasalahan yang serius, namun sesungguhnya obesitas ternyata tetap selalu berdampak besar pada segala aspek kehidupan termasuk sektor ekonomi. Perlu diketahui pada tahun 2014 diperkirakan 2 triliun dollar atau sekitar 30 ribu triliun rupiah pertahun ekonomi global terdampak oleh permasalahan obesitas di seluruh dunia. Permasalahan tersebut meliputi gangguan kesehatan tipe kronis yang dipicu salah satunya oleh obesitas seperti penyakit kardiovaskular, stroke, penyakit kanker, diabetes, dan juga penyakit ginjal. Karena itulah, maka tak heran kalau fenomena epidemi obesitas yang hampir seluruh dunia mengalami suatu fenomena tersebut menjadi cepat di kenal luas secara global. Lalu bagaimana jelasnya demikian?

Fenomena epidemi obesitas dapat diamati dari salah satunya adalah peningkatan jumlah kasusnya di dunia yang semakin banyak dan penyebaran ke seluruh negara. Data menunjukkan bila dibandingkan dengan 40 tahun yang lalu, jumlah penderita obesitas telah meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada tahun 2014 sendiri, telah terdapat lebih dari 1,9 milliar orang dewasa diatas 18 tahun yang memiliki kelebihan berat badan atau overweight dan 600 juta jiwa diantaranya mengalami obesitas. Di Indonesia sendiri 39% dari orang dewasa mengalami kelebihan berat badan dan 13% mengalami obesitas. Menurut WHO prevalensi kelebihan berat badan ini tertinggi terjadi pada daerah Pasifik dan Amerika, termasuk juga negara-negara Timur Tengah. Salah satu negara Timur Tengah dengan prevalensi obesitas tertinggi menurut WHO adalah Arab Saudi. Informasi ini juga menjadi perhatian media Arab News, termasuk di Indonesia. Dalam rangka untuk penyempurnaan perbaikan pola hidup ke depan, maka untuk itu perlu bagi kita untuk mempelajari beberapa fakta seputar negara tersebut.

Menurut penelitian mengenai obesitas di delapan negara yang naskahnya diterbitkan oleh British Medical Journal (BMJ) Global Health, ditemukan bahwa obesitas merugikan negara-negara tersebut sekitar 2,4% dari produk domestik bruto (PDB). Dari negara-negara yang diteliti, studi World Obesity Federation dan RTI International menemukan dampak tertinggi sebagai persentase dari PDB adalah di Arab Saudi, yang memiliki tingkat obesitas sekitar 35%. Obesitas merugikan Arab Saudi US$ 19 miliar (Rp 272 triliun) per tahun, dan angka itu bisa meroket pada tahun 2060 jika masalah ini tidak ditangani. Studi terbaru juga menemukan obesitas dapat merugikan Arab Saudi US$ 78 miliar (Rp 1.116 triliun) per tahun pada tahun 2060 jika tindakan mendesak untuk memperbaikinya tidak segera diambil. Biaya tersebut berasal dari perhitungan pengeluaran perawatan kesehatan, serta biaya tidak langsung, termasuk kematian dini dan absen kerja untuk berobat. Hebatnya bahwa biaya tidak langsung tersebut ternyata menyumbang 65 persen dari total dampak yang diprediksi akan ditimbulkan. Ini bisa dimaklumi mengingat secara medik, obesitas menyebakan berbagai penyimpangan mesin biologi tubuh, termasuk kecenderungan besar keterkaitan munculnya kanker, stroke, penyakit jantung dan penyakit pembuluh darah, osteoporosis, penyakit gagal ginjal kronis. Semua itu tidak kecil biaya perawatannya, sementara itu di sisi lainnya terkait keberhasilan sangat bervariasi.

Johanna Ralston, CEO Federasi Obesitas Dunia, mengatakan bahwa organisasinya memilih Arab Saudi sebagai bagian dari penelitian ini karena  memiliki tingkat obesitas dewasa dan anak tertinggi di dunia. Populasinya yang besar dan relatif muda, bersama dengan upaya baru-baru ini dalam pencegahan dan perawatan obesitas, menjadikan Arab Saudi sebagai kasus yang menarik untuk disimak dalam perpektif perbaikan kedepan. Sedangkan untuk negara tetangganya juga tidak menutup kemungkinan untuk disimak mengingat sebagian besar negara tetangganya yang berada di Teluk ini, juga memiliki tingkat obesitas yang termasuk kelompok tinggi. Menurut Ralston pemerintah perlu mendorong individu  warga negaranya untuk merangkul perilaku sehat sebisa mungkin. Selain itu dibutuhkan kerjasama yang kuat dan focus, terutama dukungan dari individu atau keluarga agar segera melakukan perubahan pola hidup produktif dan juga mengatasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap obesitas yang berada di luar kendali individu. Dalam hal ini termasuk faktor biologis, genetik, sosial budaya, ekonomi dan lingkungan. Pencegahan, pengobatan, dan pengelolaan obesitas yang efektif tidak akan tercapai hanya dengan sekedar meminta mereka untuk mengubah perilakunya, namun pemerintah harus segera menerapkan kebijakan komprehensif yang meningkatkan akses ke makanan murah, bergizi dan perawatan kesehatan yang terjangkau, dan memungkinkan warganya untuk hidup seimbang bebas dari stres dan kejadian buruk. Prinsipnya, mendudukan obesitas yang bukan pada single kausa. Kejadian obesitas dikontribusikan dari berbagai aspek termasuk sistem pembangunan kesehatan nasional. 

Bila diperhatikan lebih lanjut, apa yang dikatakan oleh Johanna Ralston dalam penelitiannya terkait obesitas, nampaknya mengandung pesan khusus bahwa janganlah menyederhanakan akan kondisi obesitas. Ini bukan masalah sederhana. Negara Arab Saudi dan negara negara di sekitarnya telah menanggung beban sangat berat. 

Maka menjadi sangat jelas bahwa prinsip promosi-prevensi masih tetap merupakan strategi yang paling hebat dalam membangun Sistem Kesehatan Masyarakat, tidak terkecuali untuk bebas dari ancaman obesitas yang semakin mengganas. []

 

Source:
Keywords: