Lewatnya Perhatian Penyakit Ginjal Kronis selama Pandemi
Hingga kini kita semua masih terus melalui hari-hari penuh keprihatinan dari pandemi covid. Sudah masuk bulan ke 19 pandemi berjalan, namun masih saja belum jelas kapan pandemi berakhir meski para ahli telah meramal situasi sedang menuju endemi. Kita pun menyadari dengan rasa prihatin bahwa begitu banyaknya saudara kita yang sudah mendahului kita, di sisi lain ada juga yang pernah terkena covid tapi tidak bergejala.
Apapun dampak pandemi ini, itu harus diakui kalau pandemi ini telah mendominasi corak kehidupan manusia hingga bisa membenamkan berbagai permasalahan besar lainnya, seakan hilang dari perhatian utama. Salah satu contohnya, pandemi telah menjadikan penyakit ginjal kronis lepas dari perhatian utama. Untuk itu perlu kita sadari bersama bahwa penyakit ginjal kronis ini pun juga sebagai problem utama. Butuh pengelolaan yang baik (entah dalam program pencegahan maupun pengobatan). Besarnya permasalahan ginjal di dunia dapat digambarkan dengan besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk merawat pasien dengan gagal ginjal. Menurut data di US, tiap tahunnya pemerintah Amerika menghabiskan dana kurang lebih 420 triliun rupiah per tahunnya untuk membiayai pengobatan cuci darah di negaranya. Jumlah tersebut relatif cukup besar dibandingkan dengan anggaran hemodialisa di Indonesia yang berkisar 4,8 triliun rupiah per tahunnya. Hal tersebut menunjukkan besarnya pengeluaran negara untuk pengobatan ginjal di masyarakat.
Menurut CDC, lebih dari 15% penduduk dewasa di US atau sekitar 37 juta jiwa diestimasikan mengalami PGK namun 9 dari 10 orang dengan penyakit ginjal tidak tahu bahwa ginjalnya mengalami gangguan. Terlebih lagi hanya 2 dari 5 pasien dengan PGK yang berat tidak mengetahui dirinya sakit. Sedangkan di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, prevalensi PGK meningkat menjadi 2018 atau dua kali lebih tinggi dari data 5 tahun sebelumnya yaitu 0,2 persen. Namun jumlah tersebut diperkirakan seharusnya lebih tinggi karena menurut Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PB Pernefri) kejadian PGK diperkirakan mencapai 12,5%.
Dari berbagai laporan disebutkan bahwa ada 1 yang terkena penyakit ginjal kronis dari setiap 10 orang dewasa. Artinya sebesar 10% prevalensi penyakit ginjal kronis terjadi di suatu masyarakat. Mereka tersebar secara random namun ada kecenderungan ada pada daerah yang tidak sejahtera. Semakin tidak sejahtera daerahnya, bentuk kejadian penyakit ginjal kronis semakin kompleks. Lebih menyedihkan lagi hal tersebut diikuti kejadian penyakit penyerta akibat dari gagal ginjal kronis. Kondisi demikian ini akan melatarbelakangi mengapa mereka yang terkena gagal ginjal kronis mengalami penurunan kualitas hidup. Mereka bahkan langsung tidak bisa bekerja aktif seperti sebelum terkena sakit ginjal kronis parah. Mereka pun disibukan dalam mengurusi gangguan ginjalnya ke layanan kesehatan dengan harapan bisa bertahan jangan sampai cuci darah atau cangkok ginjal. Betapa berat kehidupan demikian, mereka harus setiap hari pusing, mual, lemes saat penyakit ginjal kronis masuk stadium lanjut.
Walaupun penyakit ginjal kronis lebih umum ditemukan pada orang dengan usia 65 tahun keatas (38%) bila dibandingkan dengan kelompok usia 45-64 tahun (12%) dan 18-44 tahun (6%), namun PGK ini bisa menyerang segala usia dan etnis seluruh belahan dunia. Lain hal itu juga sangat memukul rencana hidup dari pengidap PGK nya sendiri. Akan semakin runyam kalau yang terkena PGK ini adalah penyanggah nafkah keluarga. Akibatnya bisa mudah diduga, bahwa itu akan memperberat kehidupan keluarganya tak terkecuali anak-anak mereka. Tak kenal siapa yang terkena, apaitu pejabat atau artis atau yang mana saja mereka tak akan bisa melanjutkan profesinya dengan normal. Itulah gambaran yang dialami banyak penderita PGK.
Selain mereka harus bolak balik yang berkali-kali ke layanan Kesehatan untuk mengurangi penderitaannya, mereka dituntut untuk bersabar. Pada batas tertentu mereka masih mampu bersabar, namun bila gagal maka mereka akan mencari pengobatan alternatif dengan penuh harapan besar untuk sembuh. Sayangnya, faktanya, bahwa khas penyakit ini, semakin kronis penyakit ginjalnya dan berjalan progresif , semakin susah pengobatannya. Gagal ginjal kronis bisa diibaratkan bagaikan “one way ticket”, berjalan terus namun tidak bisa kembali. Suatu ketika jika dua ginjal sudah benar-benar tak berfungsi, maka umumnya mereka pasrah dan menyerah ikut saran dokter kalau mereka ingin bertahan, pilihan yang ada adalah bentuk cuci darah atau harus dengan cangkok ginjal.
Cerita demikian begitu sangat sering kita dengar baik dari sumber media cetak atau media lainnya. Apalagi ketika divonis cuci darah banyak dari mereka terbayang akan survivalnya tidak akan lama. Cerita Kejadian yang banyak ini, tidak hanya di negara kita namun di semua belahan dunia dengan nuansa yang hampir sama. Kondisi ini terpotret oleh para ahli ginjal. Sejak puluhan tahun lalu mereka sepakat untuk membuat hari ginjal dunia yang tepatnya diperingati pada setiap bulan maret di seluruh dunia sebagai momen untuk mengingatkan bahwa ini masalah besar dan dampaknya luas sekali pada semua aspek kehidupan. Meskipun diperingati tiap tahunnya, hal ini belum bisa mengerem laju penambahan kasus penyakit ginjal kronis. Konsekuensi demikian ini membuat sangat serius meski terasa klise temanya tiap tahun biasanya mendasarkan hal-hal aktual.
Ketika mereka dengan PGK yang belum diindikasikan cuci darah (hemodialisis) dan transplantasi, artinya pertahanan tubuh mereka cukup kuat. Racun yang menumpuk di tubuh karena tak tercegat ginjal belum membuat mual, muntah, dan koma. Air yang tergenang di tubuhnya belum membuat sesak di paru. Tubuh belum terkena hipokalsemia (kadar kalsium darah begitu rendah sehingga bisa kejang). Namun Kalium masih bisa keluar sehingga belum mengalami problem hiperkalemia. Namun seiring waktu, kadar kalium darah menjadi tinggi sehingga membuat otot tubuh setengah lumpuh, kaki tidak bisa digerakkan, pompa otot jantung tidak efektif, hingga paru-paru tergenang air sehingga sesak hebat, bahkan henti jantung mendadak yang dikenal sebagai heart attack. Inilah gambaran klinis dari penyakit ginjal kronis tahap akhir.
Dan akhirnya mereka terpaksa bersahabat dengan dialisis (cuci darah dengan mesin/hemodialisis atau kantong perut/CAPD) yang mahal itu. Untungnya sejak 2014, pemerintah telah membiayai biaya cuci darah yang rata-rata. Maka dari itu sebelum nasi menjadi bubur, rawatlah ginjal ajaib kita dengan mengutamakan jalan preventif dan promotif. Dan ini akan dibahas dalam sesi berikutnya. []
Djoko Santoso
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
Sumber gambar: http://ners.unair.ac.id/site/index.php/news-fkp-unair/30-lihat/507-covid-19-makin-merajalela-pengidap-gagal-ginjal-kronis-harus-lebih-waspada